Search
Archives

A-Ge-Ha kenapa y??

Perkembangan setiap masyarakat bergantung pada ketersediaan sumber pangan yang cukup. Pada masyarakat primitif yang menggantungkan hidupnya pada pengumpulan makanan dan perburuan, setiap individu harus terlibat secara total dalam kepastian sumber pangan. Akan tetapi, keberlimpahan bahan makanan di alam hanya bersifat sementara. Keberadaan bahan makanan itu tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan manusia yang tingkat pertumbuhannya sangat cepat.

Menurut Sensus Penduduk 2000, penduduk Indonesia berjumlah  sekitar 205.1 juta jiwa. Penduduk Indonesia tahun 2010 diperkirakan sekitar 234.2 juta (BPS, 2010). Walaupun demikian, pertumbuhan rata-rata per tahun penduduk Indonesia selama periode 2000-2025 menunjukkan kecenderungan terus menurun. Dalam dekade 1990-2000, penduduk Indonesia bertambah dengan kecepatan 1,49 persen per tahun, kemudian antara periode 2000-2005 dan 2020-2025 turun menjadi 1,34 persen dan  0,92 persen per tahun.

Saat ini bukan hanya tingginya pertumbuhan penduduk saja yang menjadi masalah dalam penyediaan bahan makanan. Namun, semakin sempitnya lahan pertanian yang diakibatkan oleh merebakkan degradasi lahan, konversi lahan dan perluasan pemukiman penduduk juga menjadi masalah utama dalam pemenuhan sumber bahan makanan masyarakat. Saat ini, luas lahan pertanian Indonesia hanya 363 m2/kapita, atau 608 m2/kapita kalau lahan kering produktif dan non produktif diikutsertakan. Sebagai perbandingan, Vietnam memiliki 960 m2/kapita, Thailand 5.230 m2/kapita, India 1.290 m2/kapita, China 1.120 m2/kapita, dan Australia 26.100 m2/kapita.

Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa saat ini diperlukan suatu inovasi baru dalam bidang pertanian khususnya dalam hal penyediaan bahan makanan terutama beras yang merupakan makanan pokok bangsa Indonesia. Meskipun Kementerian Pertanian menjamin pada tahun 2010 tidak melakukan impor beras dari luar negeri karena produksi beras nasional melampaui tingkat kebutuhan dalam negeri, tetap harus ditemukan inovasi baru menuju pertanian sehat dan lestari.

Seiring dengan dibutuhkannya inovasi dalam bidang pertanian, maka dibutuhkan pula sejumlah Sumber Daya Manusia yang juga handal dan mengerti dalam bidang itu. Apalagi menurut Renstra Departemen Pertanian Indonesia, tantangan bagi pemuda Indonesia adalah memperbaiki keadaan gizi bangsa, memperbaiki infrastruktur alam khususnya dalam bidang pertanian(lahan dan air), meningkatkan pruduktivitas dan nilai tambah komoditi pertanian dan membuka akses perekonomian bangsa dari sektor pertanian. Itulah sebabnya dipilihlah jurusan Agronomi dan Hortikultura di Institut Pertanian Bogor ini.

Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB termasuk sebuah jurusan yang kualitas pendidikan di bidang pertaniannya tidak dapat diremehkan. Mata kuliah yang diajarkan telah mencakup hampir semua aspek pertanian mulai dari tanaman pangan, tanaman non pangan, tanaman hias, perkebunan, penanganan pasca panen, serta berbagai ilmu tentang bioteknologi dan pemuliaan tanaman terapan. Selain dibekali oleh materi kuliah, mahasiswanya juga dibekali dengan keahlian-keahlian lain yang sesuai dengan profesinya.

Berbagai prestasi telah banyak diraih oleh Departemen Agronomi dan Hortikultura, mulai dari mahasiswa hingga dosen melalui karya-karyanya. Departemen ini pun juga telah memperoleh sertifikat dari ISO (International Organization for Standardization). Dengan demikian terbukti bahwa Departemen Agronomi dan Hortikultura merupakan departemen dari jurusan pertanian yang memiliki grade dan kualitas yang tinggi

by:shafiyyah_asma42@yahoo.com

referensi:

http://www.datastatistik-indonesia.com/content/view/919/934/

http://www.deptan.go.id/renbangtan/rancangan%20renstra%20deptan%202010-2014%20lengkap.pdf

http://www.pertaniansehat.or.id/?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=231

http://www.iso.org/iso/about/how_iso_develops_standards.htm

http://ekonomi.tvone.co.id/berita/view/33845/2010/03/03/mentan_jamin_2010_tak_ada_impor_beras/

http://www.deptan.go.id/renbangtan/konsep_pembangunan_pertanian.pdf